IPOL.ID – Melonjaknya harga kedelai impor akibat gejolak geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran mulai menekan pelaku usaha kecil di daerah, terutama perajin tempe rumahan di Kabupaten Jember yang kini harus berjuang menjaga keberlangsungan produksi di tengah biaya bahan baku yang terus merangkak naik.
Salah satu perajin yang terdampak adalah Maryono, pemilik rumah produksi tempe di kawasan Kaliwates. Usaha yang telah ia jalankan selama lebih dari dua dekade kini menghadapi tekanan berat akibat lonjakan biaya produksi.
Harga kedelai impor yang sebelumnya berada di kisaran Rp8.000 per kilogram kini naik menjadi Rp10.000 per kilogram. Kondisi ini membuat Maryono harus memangkas kapasitas produksi secara signifikan.
“Dulu produksi bisa mencapai 1,8 kuintal per hari, tapi sekarang hanya sanggup 1 kuintal saja,” ujar Maryono, Kamis (2/4/2026).
Penurunan produksi hingga hampir 50 persen menjadi langkah yang tidak terhindarkan. Selain mengurangi penggunaan bahan baku, Maryono juga terpaksa mengurangi jumlah tenaga kerja karena pendapatan yang terus menurun.
