Meski biaya operasional meningkat, para perajin tempe di wilayah tersebut memilih untuk tidak menaikkan harga jual. Tempe tetap dijual dengan harga Rp5.000 per biji guna menjaga daya beli masyarakat.
Sebagai strategi bertahan, para perajin melakukan penyesuaian pada ukuran atau takaran tempe. Langkah ini diambil agar margin keuntungan tetap ada, meski dalam kondisi yang semakin menipis.
Para pelaku usaha khawatir, kenaikan harga jual secara langsung justru akan membuat konsumen beralih ke produk lain, sehingga berdampak lebih besar terhadap keberlangsungan usaha mereka.
Kondisi ini mencerminkan tekanan nyata yang dihadapi industri rumahan di tengah gejolak global, di mana kenaikan harga bahan baku impor dapat langsung berdampak pada pelaku usaha kecil di daerah.(Vinolla)

