Ipol.idIpol.id
Aa
  • Home
  • News
  • Nasional
    • Jabodetabek
    • Jakarta Raya
    • Nusantara
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Kriminal
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Si Ipol
  • Opini
  • More
    • Video
    • Gaya hidup
    • Sosok
    • Tekno/Science
    • Galeri
    • Indeks Berita
Reading: BRIN Kembangkan Teknologi Pengelolaan Sampah di Indonesia
Share
Ipol.idIpol.id
Aa
Cari berita disini...
  • Home
  • News
  • Nasional
    • Jabodetabek
    • Jakarta Raya
    • Nusantara
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Kriminal
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Si Ipol
  • Opini
  • More
    • Video
    • Gaya hidup
    • Sosok
    • Tekno/Science
    • Galeri
    • Indeks Berita
Follow US
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan IPOL.ID
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
Ipol.id > Nasional > BRIN Kembangkan Teknologi Pengelolaan Sampah di Indonesia
Nasional

BRIN Kembangkan Teknologi Pengelolaan Sampah di Indonesia

Iqbal
Iqbal Published 15 Apr 2026, 13:25
Share
5 Min Read
Tumpukan sampah yang menggunung di Pasar Induk Kramat Jati. Foto: Ist
Tumpukan sampah yang menggunung di Pasar Induk Kramat Jati. Foto: Ist
SHARE

IPOL.ID – Permasalahan sampah saat ini menjadi isu yang semakin banyak dibahas di Indonesia. Sampah yang menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di beberapa lokasi wilayah Indonesia perlu segera mendapatkan penanganan yang serius.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Teknologi Konversi Energi (PRTKE) Organisasi Riset Energi dan Manufaktur (OREM) mengembangkan inovasi teknologi pengolahan sampah yang dapat diubah menjadi sesuatu yang lebih bernilai. Kepala PRTKE, Tata Sutardi, mengungkapkan saat ini PRTKE berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan di Indonesia untuk menentukan teknologi dalam mengatasi permasalahan sampah.

“TPA di Indonesia menampung lebih dari 10.000 ton sampah per hari. Sampah tersebut akan dikonversi menjadi energi. Untuk itu, pemerintah memutuskan membangun sekitar 34 Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) dalam kurun empat tahun, yang telah dimulai sejak tahun lalu,” ungkap Tata.

Didasari hal tersebut, PRTKE bersama dengan Biotechworks-H2 Co., Ltd. Jepang melakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) tentang Penelitian dan Inovasi Pada Sistem Pra-Perlakuan dan Gasifikasi Waste-To-Energy Terintegrasi, Studi Kelayakan Tekno-Ekonomi, dan Demonstrasi Energi Berkelanjutan. Penandatanganan berlangsung di KST B.J. Habibie, Serpong, Jumat (10/4).

Baca Juga

IMG 20260404 WA0115
BRIN Sulap Gas Metana TPA Jadi Sumber Energi
BRIN dan Pemprov Banten Kolaborasi Kembangkan Mobile Clinic Berbasis Telemedicine
BRIN dan BNN Kerja Bareng Kembangkan Teknologi AI dan UAV Deteksi Ladang Ganja

“Dalam kolaborasi ini, terdapat beberapa poin strategis yang menjadi masalah di Indonesia. Pertama terkait pengolahan sampah. Kedua, pengembangan sistem gasifikasi. Dan yang ketiga adalah penyusunan studi kelayakan tekno-ekonomi. Selain itu, kolaborasi ini juga mencakup demonstrasi energi berkelanjutan,” Tata menjelaskan.

Tata berharap, kolaborasi antara BRIN dan Biotechworks ini dapat menghasilkan teknologi baru yang menjadi solusi nasional dalam penanggulangan sampah di Indonesia.

“Kami berharap kolaborasi ini dapat saling melengkapi. Inovasi yang telah dikembangkan oleh periset BRIN akan dipadukan dengan teknologi yang dikuasai oleh Biotechworks. Selanjutnya, teknologi pengolahan sampah tersebut akan dirumuskan dalam sebuah proposal untuk diusulkan kepada Danantara,” ujarnya.

Sejalan dengan rencana tersebut, Chief Executive Officer Biotechworks-H2 Co., Ltd., Akihide Nishikawa, menyampaikan bahwa berdasarkan pengamatan Biotechworks, persoalan sampah merupakan isu nasional di berbagai wilayah, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di Amerika. Ia berharap, kolaborasi dengan BRIN tersebut dapat menyelesaikan problem-problem terkait sampah di Indonesia.

Lebih lanjut Nishikawa menyampaikan, Biotechworks akan berdiskusi dengan BRIN terkait tahapan yang akan dilakukan dalam kolaborasi pengelolaan sampah.

“Mulai Juli hingga Desember tahun ini, Biotechworks akan melakukan pre-treatment. Kegiatan tersebut rencananya juga mencakup pengelompokan sampah berdasarkan jenisnya,” ujarnya.

Nishikawa menambahkan, Biotechworks memiliki teknologi untuk mengolah sampah plastik menjadi berbentuk pellet dengan bantuan Artificial Intelligence. Dalam pengolahan sampah, ia menjelaskan bahwa langkah pertama yang dilakukan adalah dengan mengeringkan sampah. Setelah itu, sampah tersebut dan dijadikan pellet, dipantau menggunakan sensor, dan kemudian dianalisis.

Dalam kolaborasi ini, Biotechworks juga membahas mengenai pemanfaatan pelet hasil pengolahan sampah untuk dikonversi menjadi gas.

“Kami ingin mengkaji bagaimana pelet ini dapat diubah menjadi gas. Data yang diperoleh dari proses tersebut rencananya akan disebarluaskan di Parepare pada 2027,” ujar Nishikawa.

Sementara itu, Perekayasa Ahli Muda PRTKE, Prima Zuldian, memaparkan, dalam pengolahan sampah domestik, BRIN memulai dari pemilahan bahan seperti daun dan ranting. Namun, rendahnya nilai kalori mendorong BRIN untuk melakukan modifikasi dengan menambahkan material lain. “Untuk itu, kemudian ditambahkan plastik untuk meningkatkan nilai kalori sekaligus menekan kandungan berbahaya,” ujarnya.

Prima menambahkan, proses yang dilakukan dalam pengolahan sampah menjadi berbentuk pellet melalui beberapa tahapan, mulai dari pemisahan, pencacahan, pengeringan, pembubukan, dan terakhir adalah peletisasi. Lebih lanjut, Ia menyoroti pengelolaan sampah di Indonesia yang masih menghadapi berbagai kendala mendasar.

“Pengolahan sampah di Indonesia masih kurang baik. Kadar air dan abu sangat tinggi, sehingga tidak efisien jika langsung digunakan sebagai bahan bakar,” ia menjelaskan.

Prima mencontohkan bahwa penggunaan Refuse Derived Fuel (RDF) untuk pembangkit listrik saat ini belum melalui proses pre-treatment yang optimal. Akibatnya, terdapat RDF yang langsung diproses tanpa tahapan memadai dan setelah diuji diketahui mengandung tanah hingga 40 persen, sehingga tidak efisien untuk proses pembakaran.

Sebagai solusi, Prima menekankan pentingnya tahapan pre-treatment untuk meningkatkan kualitas bahan baku sebelum diproses lebih lanjut. “Untuk menghasilkan output yang optimal, pre-treatment harus menjadi fokus utama,” ia menegaskan. (ahmad)

GN

Follow Akun Google News Ipol.id

Jangan sampai kamu ketinggalan update berita menarik dari kami
TAGGED: brin, pengelolaan sampah, teknologi
Share this Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram Copy Link
Previous Article Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo. Foto: Live streaming YT @kpkri KPK Dalami Proses Mutasi Tersangka Suap PN Depok
Next Article Screenshot 2020 09 29 Jumlah Nakes Meninggal Akibat Covid 19 Meningkat Pesat Cegah Penularan Virus, Kemenkes Mulai Imunisasi MR bagi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan

TERPOPULER

TERPOPULER
IMG 20260531 WA0032
HeadlineJabodetabek

Perempuan Cantik Ditemukan Tewas, di Hotel Kebayoran, Diduga Dibunuh, Pelaku Ditangkap Polisi

HeadlineNews
Perawat Klinik Gigi di Tangerang Ditusuk Pasien Usai Antar ke Toilet, Korban Alami Lima Luka Tusuk
31 May 2026, 20:11
HeadlineOlahraga
Begini kata  Fajar/Fikri usai Gagal Juara Singapore Open 2026
31 May 2026, 23:47
HeadlineNews
Viral Pelajar Diduga Dirundung di Pringsewu, Penonton Justru Soraki Aksi Kekerasan
31 May 2026, 19:09
Nasional
Kabar Gembira, Universitas Mercu Buana Buka Beasiswa SNBT 2026: Perluas Akses Pendidikan Tinggi
31 May 2026, 13:52
Ipol.idIpol.id
Follow US

IPOL.ID telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor 1084/DP-Verifikasi/K/IV/2023
https://dewanpers.or.id/data/perusahaanpers

Copyright © IPOL.ID. All Rights Reserved.

  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan IPOL.ID
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
Logo Ipol.id Logo Ipol.id
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?