IPOL.ID — Gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat yang diumumkan pekan ini memunculkan dinamika baru dalam konflik Timur Tengah. Sejumlah laporan media internasional menyebut, kesepakatan tersebut tidak lepas dari pemenuhan sejumlah tuntutan utama Teheran, yang dinilai menjadi indikasi melemahnya posisi Washington dalam konflik ini.
Iran sebelumnya secara tegas menolak skema gencatan senjata sementara yang diajukan Amerika Serikat. Dalam pernyataan yang dikutip Reuters pada Selasa (7/4/2026), pejabat senior Iran menegaskan bahwa Teheran hanya bersedia membuka jalan negosiasi jika sejumlah syarat utama dipenuhi, termasuk penghentian total serangan militer AS, jaminan tidak ada serangan ulang, serta kompensasi atas kerusakan akibat perang.
Selain itu, Iran juga mengajukan tuntutan strategis lain seperti pengaturan baru jalur energi global, termasuk hak untuk menetapkan biaya bagi kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Sikap keras Iran ini juga tercermin dalam respons resminya terhadap proposal Washington. Pada 6 April 2026, kantor berita IRNA melaporkan bahwa Iran menolak gencatan senjata sementara dan mengajukan formula perdamaian permanen dalam 10 poin, termasuk pencabutan sanksi dan pengakhiran konflik kawasan secara menyeluruh.
