Joko menekankan bahwa Kejurnas seharusnya menjadi ajang seleksi utama untuk menjadi “pahlawan” di kancah internasional.
Ia juga menyentil daerah yang abai terhadap aturan Minimal Angkatan Pertama (MAP) dan batasan usia. “Saya tidak dapat bibit baru di sini. Padahal atlet di Pelatnas tidak semuanya hebat, ada yang perlu direhabilitasi.
Tapi penggantinya tidak ada. Jangan kirim atlet yang baru seminggu latihan atau yang sudah berumur,” tegasnya. Kejutan NTB dan Tekad Emas Bambang Wijaya Di sisi lain, hasil positif ditunjukkan oleh kontingen Nusa Tenggara Barat (NTB). Tuan rumah PON XXII ini mengirimkan 8 atlet danberhasil membawa pulang 3 emas, 2 perak, dan 2 perunggu.
Ketua Pengprov PABSI NTB, Karina de Vega, mengaku cukup puas meski persiapan timnya tergolong singkat. “Saya mengapresiasi usaha anak-anak yang baru beberapa bulan konsentrasi latihan. Hasilnya cukup bagus, walau ada yang seharusnya bisa lebih baik lagi. Target kami jelas, memberikan yang terbaik untuk NTB dan mengincar juara umum pada PON 2028 nanti,” kata Karina optimis.
