Suharyanto mengingatkan, sejumlah wilayah di Indonesia, khususnya di Pulau Sumatra dan Kalimantan, memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap karhutla, terutama pada lahan gambut mudah terbakar dan sulit dipadamkan.
Langkah-langkah pencegahan terus diperkuat melalui patroli terpadu, sosialisasi kepada masyarakat, serta pembasahan lahan gambut (rewetting) di wilayah rawan.
“Kita sudah bisa melewati 3 fase El Nino yaitu 2015, 2019 dan 2023, mudah-mudahan di tahun 2026 ini dampaknya bisa berkurang. Harapannya kita bisa lebih melakukan tindakan preventif secara tepat,” kata Suharyanto.
Sebagai bagian dari penguatan kesiapsiagaan, BNPB juga mengoptimalkan penggunaan teknologi dalam pemantauan dan penanganan karhutla, seperti sistem deteksi titik panas (hotspot) berbasis satelit, pemantauan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), serta pemanfaatan drone untuk patroli udara.
Suharyanto menegaskan bahwa penanganan karhutla harus dilakukan secara cepat, terpadu, dan berkelanjutan.
