
Agustina menegaskan pawai ini menjadi perayaan atas prestasi Semarang sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia dengan meraih peringkat tiga nasional dalam ajang Indeks Kota Toleran (IKT) 2025 dari SETARA Institute.
“Capaian ini menjadi anugerah luar biasa bagi Semarang sebagai kota metropolitan yang sangat heterogen. Hal ini membuktikan bahwa di tengah kompleksitas kota besar, warga Kota Semarang mampu menjadi teladan toleransi bagi seluruh Indonesia,” tegasnya.
Suasana makin cair saat rombongan mencapai Simpang Lima. Di hadapan warga, Agustina berinteraksi mengenai filosofi ikon akulturasi Semarang, Warak Ngendok. Beliau menekankan simbol perpaduan naga, kambing, dan unta tersebut adalah bukti bahwa kerukunan telah menjadi napas kehidupan kota sejak lama.
“Berbagai karnaval keagamaan yang kita gelar hingga hari ini, mulai dari Dugderan hingga Karnaval Paskah, memberikan bukti bahwa kerukunan lintas agama di Semarang berdampak langsung pada penguatan ekonomi dan pariwisata. Kita buktikan bahwa Semarang selalu damai, kondusif, dan siap untuk terus maju,” imbuhnya.
