Ia menjelaskan, Banten memiliki karakter wilayah yang kompleks, mulai dari kawasan perkotaan padat penduduk di Tangerang Raya hingga daerah terpencil dengan kondisi topografi yang sulit dijangkau. Selain itu, keterbatasan tenaga kesehatan di wilayah pelosok juga masih menjadi kendala.
“Di Provinsi Banten terdapat lebih dari 11 ribu kilometer jalan di luar jalan nasional dan tidak semuanya dalam kondisi baik. Karena itu, Mobile Clinic berbasis telemedicine menjadi salah satu solusi untuk menutup kesenjangan layanan kesehatan,” ujarnya.
Andra menilai tantangan yang dihadapi Banten juga dialami banyak daerah lain di Indonesia, terutama wilayah kepulauan dan daerah yang jauh dari pusat pemerintahan maupun pusat ekonomi.
“Mari kita jadikan teknologi sebagai alat untuk memberikan layanan kesehatan yang lebih hadir, merata, dan berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesia,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Organisasi Riset Tata Kelola Pemerintahan, Ekonomi, dan Kesejahteraan Masyarakat (OR TKPEKM) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Agus Eko Nugroho, menekankan bahwa telemedicine sebagai bagian dari pilar transformasi teknologi kesehatan mampu menjadi solusi atas keterbatasan jarak, waktu, dan infrastruktur pelayanan kesehatan, terutama di wilayah yang sulit dijangkau.
