Ipol.idIpol.id
Aa
  • Home
  • News
  • Nasional
    • Jabodetabek
    • Jakarta Raya
    • Nusantara
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Kriminal
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Si Ipol
  • Opini
  • More
    • Video
    • Gaya hidup
    • Sosok
    • Tekno/Science
    • Galeri
    • Indeks Berita
Reading: BRIN Temukan Teknologi Cegah Penyakit Huanglongbing di Tanaman Jeruk
Share
Ipol.idIpol.id
Aa
Cari berita disini...
  • Home
  • News
  • Nasional
    • Jabodetabek
    • Jakarta Raya
    • Nusantara
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Kriminal
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Si Ipol
  • Opini
  • More
    • Video
    • Gaya hidup
    • Sosok
    • Tekno/Science
    • Galeri
    • Indeks Berita
Follow US
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan IPOL.ID
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
Ipol.id > Tekno/Science > BRIN Temukan Teknologi Cegah Penyakit Huanglongbing di Tanaman Jeruk
Tekno/Science

BRIN Temukan Teknologi Cegah Penyakit Huanglongbing di Tanaman Jeruk

Penyakit ini menyerang jaringan floem yang berdampak pada buah yang tidak layak konsumsi karena bentuk asimetris dan rasa pahit,

Timur
Timur Published 07 May 2026, 13:45
Share
4 Min Read
Jeruk nipis memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh seperti mencegah penyakit kanker hingga meningkatkan kekebalan tubuh. Foto: Joesvicar Iqbal/ipol.id
Ilustrasi. Jeruk nipis memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh seperti mencegah penyakit kanker hingga meningkatkan kekebalan tubuh. Foto: Joesvicar Iqbal/ipol.id
SHARE

IPOL.ID – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mendorong terobosan teknologi dalam sektor hortikultura melalui pemanfaatan genome editing berbasis CRISPR/Cas9 sebagai solusi presisi menghadapi tantangan penyakit tanaman jeruk. Pendekatan ini dinilai strategis untuk mempercepat pemuliaan varietas unggul yang lebih tahan terhadap penyakit sekaligus meningkatkan produktivitas komoditas hortikultura nasional.

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Hortikultura, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Kristianto Nugroho mengungkapkan, salah satu ancaman utama dalam budidaya jeruk adalah penyakit huanglongbing (HLB). Hal ini disebabkan oleh bakteri Candidatus Liberibacter asiaticus.

“Penyakit ini menyerang jaringan floem tanaman yang berfungsi mengangkut hasil fotosintesis. Dampaknya sangat signifikan, mulai dari daun menguning, pertumbuhan terhambat, hingga buah yang tidak layak konsumsi karena bentuk asimetris dan rasa pahit,” jelas Kristianto yang disampaikan dalam webinar HortiActive #26, Rabu (6/05).

Ia menambahkan, penyakit ini telah teridentifikasi sejak 1950-an di Indonesia dan terus menyebar luas, dengan estimasi kerugian mencapai sekitar Rp120 miliar. Dalam konteks biologis, serangan HLB memicu respons pertahanan tanaman berupa akumulasi senyawa callose pada jaringan floem.

Baca Juga

Ilustrasi uji komtenesi ASN. Foto: Kemenpan RB
BRIN – KemenPAN-RB Uji Instrumen Kompetensi Digital ASN, Kejar Target 90 Persen di 2029
Ada Subspesies Baru Bisbul Asal Papua, Berbeda dengan Populasi di Filipina
BRIN Kembangkan Teknologi Pengelolaan Sampah di Indonesia

“Namun, mekanisme ini justru berdampak kontraproduktif. Akumulasi callose bertujuan menghambat pergerakan bakteri, tetapi juga menghambat distribusi fotosintat. Ini ibarat ‘senjata makan tuan’ bagi tanaman,” ujarnya.

Temuan tersebut menjadi dasar bagi pendekatan genome editing yang menargetkan gen tertentu. Salah satunya gen callose synthase (CalS7), yang mengalami peningkatan ekspresi pada tanaman terinfeksi. Dengan mengintervensi gen ini, diharapkan tanaman dapat memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap infeksi tanpa mengorbankan proses fisiologisnya.

Kristianto menegaskan, pemuliaan konvensional tanaman jeruk menghadapi berbagai kendala struktural. Seperti fase juvenil yang panjang, tingkat heterozigositas tinggi, serta fenomena apomiksis dan poliembrioni.

“Kondisi ini membuat proses seleksi varietas unggul menjadi kompleks dan memakan waktu lama. Di sinilah teknologi CRISPR/Cas9 memberikan solusi yang lebih presisi dan efisien,” ungkapnya .

Teknologi CRISPR/Cas9, tambahnya, bekerja dengan memanfaatkan enzim Cas9 sebagai “gunting molekuler” yang dapat memotong DNA pada lokasi spesifik yang ditentukan oleh guide RNA (gRNA). Melalui pendekatan ini, peneliti dapat menonaktifkan gen yang berkontribusi terhadap kerentanan tanaman.

“Prosesnya dimulai dari penentuan gen target, desain gRNA, hingga konstruksi plasmid untuk transformasi genetik. Tahapan penelitian melibatkan transformasi genetik menggunakan bakteri Escherichia coli dan Agrobacterium tumefaciens,” jelas Kristianto.

Dilanjutkan dengan verifikasi molekuler melalui PCR, analisis enzim restriksi, serta sekuensing. Tanaman hasil transformasi kemudian diuji secara in vitro dan in planta untuk memastikan keberhasilan integrasi gen serta efek mutasi yang dihasilkan.

“Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak semua transforman berhasil membawa gen target secara sempurna. Hanya sebagian yang menunjukkan keberhasilan integrasi dan mutasi gen, baik pada target utama maupun di luar target,” ungkapnya.

Menurutnya, Setelah tahap transformasi, penelitian dilanjutkan dengan pengujian fenotipik untuk mengevaluasi ketahanan tanaman terhadap penyakit HLB. Analisis ekspresi gen dan whole genome sequencing juga dilakukan guna memastikan akurasi perubahan genetik yang terjadi.

“Meski menunjukkan potensi besar, aspek regulasi masih menjadi tantangan dalam pengembangan teknologi genome editing di Indonesia. Saat ini, tanaman hasil rekayasa genetik masih dikategorikan sebagai organisme hasil modifikasi genetik (GMO), sehingga pengembangannya harus dilakukan dalam fasilitas terbatas dengan standar biosafety yang ketat,” jelasnya.

Ke depan, tegasnya, diperlukan dukungan regulasi yang lebih adaptif, serta penguatan infrastruktur dan ketersediaan data genom untuk mendukung pengembangan teknologi ini .

“Melalui pendekatan CRISPR/Cas9, BRIN menempatkan inovasi sebagai pendorong utama transformasi sektor hortikultura. Teknologi ini tidak hanya mempercepat proses pemuliaan, tetapi juga membuka peluang pengembangan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap penyakit, produktif, dan adaptif terhadap perubahan lingkungan,” bebernya.

Di akhir paparannya dia berharap, dengan integrasi riset bioteknologi yang semakin maju, penguatan sistem inovasi hortikultura akan mampu memberikan kontribusi nyata terhadap ketahanan pangan nasional. Sekaligus meningkatkan daya saing komoditas Indonesia di tingkat global. (tim)

GN

Follow Akun Google News Ipol.id

Jangan sampai kamu ketinggalan update berita menarik dari kami
TAGGED: brin, jeruk, penyakit tanaman jeruk, tanaman jeruk
Share this Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram Copy Link
Previous Article IMG 20260428 WA0097 LHKPN Prabowo Belum Terpublikasi, KPK: Masih Proses Verifikasi
Next Article Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno Kawal Proses Revitalisasi, Wagub Bakal Ngantor di Kota Tua

TERPOPULER

TERPOPULER
Jelang AVC Men's Champions League 2026, di Pontianak, Bhayangkara Presisi, Bidik 4 Pemain Kelas Dunia
HeadlineOlahraga

Jelang AVC Men’s Champions League 2026 di Pontianak, Bhayangkara Presisi Bidik 4 Pemain Kelas Dunia

Ekonomi
Peringati Hari Buruh Internasional, Serikat Pekerja Pegadaian Makassar Gelar Pekan Olahraga dan Seni
07 May 2026, 10:32
Jakarta Raya
Permudah Akses Layanan, BPJS Ketenagakerjaan Edukasi Peserta Manfaat Aplikasi JMO
07 May 2026, 11:04
Nasional
Peralihan Arsip Pertanahan Elektronik sebagai Sebuah Keniscayaan, Sekjen ATR/BPN: Harus Dikelola dengan Baik
07 May 2026, 10:50
HeadlineJabodetabek
Viral Video Fasilitas Perpustakaan UI, Banyak Ember di Dalam Ruangan
07 May 2026, 10:53
Ipol.idIpol.id
Follow US

IPOL.ID telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor 1084/DP-Verifikasi/K/IV/2023
https://dewanpers.or.id/data/perusahaanpers

Copyright © IPOL.ID. All Rights Reserved.

  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan IPOL.ID
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
Logo Ipol.id Logo Ipol.id
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?