Alih-alih melihat film tersebut semata sebagai sesuatu yang kontroversial, ITS menempatkannya sebagai media pembelajaran yang konstruktif untuk menguji pola pikir yang sistematis, kritis, dan multidimensional. Seperti yang disampaikan oleh dosen yang akrab disapa Icha itu, setiap kebijakan publik idealnya dirumuskan melalui pendekatan bottom-up. Penting bagi pembuat kebijakan untuk selalu mempertimbangkan aspirasi dan partisipasi aktif masyarakat.
Menurutnya, tidak dapat dipungkiri bahwa setiap kebijakan pasti memiliki trade-off sehingga mustahil memuaskan seluruh pihak secara sempurna. Maka dari itu, Icha menekankan bahwa setiap kebijakan strategis nasional wajib menjunjung tinggi Pancasila terutama sila kelima tentang keadilan sosial.
Ia menjelaskan bahwa konsep keadilan sosial menurut Nancy Fraser dapat dilihat melalui tiga dimensi, yakni keadilan distribusi, keadilan representasi, dan keadilan rekognisi. “Film ini sangat relevan dijadikan studi kasus untuk menilai suatu kebijakan nasional melalui ketiga dimensi keadilan tersebut,” ujarnya.
