Jurnalis senior ini juga menilai aspek provokatif dalam film dokumenter merupakan hal yang wajar dan justru perlu dikritisi secara sehat. “Provokasi di sini bukan untuk menyulut emosi, tetapi sesuatu yang mampu mendorong kita untuk menentukan sikap terhadap suatu persoalan,” jelasnya.
Menutup sesi diskusi, Ambro menegaskan bahwa kampus adalah ruang yang tepat untuk mengeksplorasi ide, gagasan, maupun kritik dari sudut pandang akademik. Sehingga perlu bagi kampus mengawal dan memberi ruang dalam setiap proses dialektika mahasiswanya. “Segala bentuk intervensi terhadap kebebasan berpikir justru dapat melemahkan marwah akademik itu sendiri,” pungkasnya.
Melalui forum diskusi ini, ITS menegaskan komitmennya sebagai ruang akademik yang terbuka terhadap pertukaran gagasan dan pengembangan nalar kritis mahasiswa. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya memahami kebijakan dari sisi teknokratis, tetapi juga memiliki sensitivitas sosial dalam membaca dinamika pembangunan di masyarakat.
Langkah ini sesuai dengan Sustainable Development Goals (SDGs) terutama pada poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas, poin ke-10 tentang Mengurangi Kesenjangan, poin ke-12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta poin ke-15 tentang Ekosistem Daratan. ***
