Ia menjelaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat risiko bencana yang tinggi, baik gempa bumi, tsunami, longsor, banjir, maupun cuaca ekstrem. Karena itu, penguatan mitigasi dan kesiapsiagaan harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemerintah pusat hingga masyarakat di tingkat daerah.
“Yang terpenting adalah bagaimana risiko bencana dikomunikasikan kepada publik agar masyarakat tidak panik, tetapi siap siaga,” jelasnya.
Menurut Faisal, penyebaran informasi kebencanaan yang tepat, cepat, akurat, dan mudah dipahami merupakan bagian dari keputusan strategis nasional untuk menekan korban jiwa dan kerugian ekonomi akibat bencana. Oleh sebab itu, BMKG terus memperkuat sistem pemantauan, observasi, hingga teknologi peringatan dini berbasis sains dan data terkini.
Dalam paparannya, Faisal juga menjelaskan berbagai kontribusi teknologi dan riset yang telah dikembangkan Indonesia, mulai dari sistem peringatan dini longsor, banjir, dan tsunami, pemodelan kebencanaan, desain infrastruktur tahan bencana, hingga penguatan layanan informasi iklim dan cuaca untuk sektor pembangunan.
