Menurut dia, pengalaman pengelolaan arus logistik selama periode Nataru, angkutan Lebaran, hingga berbagai kondisi kepadatan operasional sebelumnya menunjukkan pentingnya sinergi lintas stakeholder pelabuhan dalam menjaga stabilitas rantai pasok nasional.
“Inisiatif BCMS ini disusun melalui kolaborasi antara KSOP Utama Tanjung Priok, Pelindo Regional 2, operator terminal, dan stakeholder pelabuhan lainnya, berdasar hasil identifikasi risiko kawasan pelabuhan serta evaluasi penanganan berbagai potensi krisis operasional sebelumnya,” katanya.
Sementara, Ketua Tim Penyusun BCMS Pelabuhan Tanjung Priok, Tedy Herdian menjelaskan bahwa dokumen BCMS menetapkan delapan skenario risiko kritikal sebagai acuan utama pengelolaan keberlangsungan operasional pelabuhan, diantaranya, pandemi kesehatan, terorisme, kerusuhan massa, kebakaran besar, tumpahan minyak, kemacetan logistik parah, gangguan kelistrikan, serta bencana alam.
“Dokumen BCMS ini bersifat dinamis dan akan terus dikembangkan mengikuti perkembangan risiko, kompleksitas operasional pelabuhan, serta tantangan rantai pasok global,” ujar Teddy.
