IPOL.ID-Raksasa minyak dan gas asal Inggris, Shell, membukukan laba sebesar 6,9 miliar dolar AS atau sekitar Rp119,27 triliun pada kuartal pertama 2026.
Angka tersebut melonjak sekitar 1,3 miliar dolar AS atau Rp22,49 triliun dibanding periode yang sama tahun lalu, dipicu gejolak harga minyak dunia akibat perang Iran serta kenaikan harga bensin dan bahan bakar jet.
Kenaikan laba terbesar berasal dari sektor pengilangan minyak (refinery), yang mencatat keuntungan hampir 2 miliar dolar AS atau setara Rp34,6 triliun. Bisnis kilang Shell diuntungkan oleh lonjakan margin pengolahan minyak mentah menjadi produk seperti solar, bensin, dan avtur di tengah ketidakstabilan pasar energi global.
Selain itu, divisi perdagangan energi Shell juga mencatat performa kuat. Seperti halnya BP yang sebelumnya melaporkan laba kuartalan meningkat tajam, para trader Shell dinilai berhasil memanfaatkan volatilitas harga minyak dengan membaca arah pergerakan pasar secara akurat.
“Shell mencatat hasil yang kuat dalam kuartal yang ditandai gangguan yang belum pernah terjadi sebelumnya di pasar energi global,” ujar CEO Shell, Wael Sawan, seperti dikutip dari CNN International, Kamis (7/5/2026).
