Menag lalu mencontohkan ruang kepemimpinan perempuan di lingkungan pendidikan tinggi keagamaan Islam yang terus meningkat. Ia melihat sekarang ini ada delapan perguruan tinggi keagamaan Islam dipimpin oleh rektor perempuan.
“Semenjak Indonesia merdeka, baru kali ini, tahun ini, rektor di Perguruan Tinggi Agama Islam itu dipimpin oleh delapan orang rektor perempuan,” tuturnya.
Menurut Menag, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan semakin diterima dan dibutuhkan. Ia menilai model kepemimpinan yang memasukkan nilai-nilai feminim menjadi penting sebagai rujukan untuk menjadi seorang pemimpin.
“Pengalaman membuktikan bahwa ternyata para pemimpin besar itu ialah pemimpin yang mampu menjalankan fungsi-fungsi ketenangan, kesabaran, kemudian juga femininity, kelembutan di dalam menjalankan fungsi manajerialnya. Apalagi sekarang, kepemimpinan feminin itu sangat dibutuhkan,” ungkapnya.
Menag kemudian mengajak kader Fatayat NU untuk berani melampaui hambatan budaya yang selama ini membatasi peran perempuan di ruang publik. Ia meminta generasi muda perempuan muslim tampil percaya diri dan aktif mengambil peran strategis di masyarakat.
