Menurutnya, tidak sedikit generasi muda yang akhirnya menjadi korban kejahatan finansial digital, mulai dari penipuan investasi ilegal hingga praktik perdagangan aset berisiko tinggi yang dilakukan tanpa pemahaman memadai, karena keputusan investasi diambil secara emosional dan tidak berbasis literasi yang kuat.
Kegiatan DFL ini membahas berbagai topik terkait perkembangan kripto, tokenisasi, perencanaan keuangan, hingga peran regulator, dan akademisi dalam membangun ekosistem keuangan digital yang sehat dan berkelanjutan.
Sejumlah narasumber dari regulator, industri, akademisi, dan praktisi keuangan hadir, antara lain Direktur Grup Inovasi Keuangan Digital OJK Ludy Arlianto, Sekretaris Jenderal Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI) William Sutanto, Certified Financial Planner Melvin Mumpuni, serta Kepala Center for Fintech and Banking UNS Putra Pamungkas.
Kegiatan DFL diselenggarakan secara luring dan daring yang diikuti oleh sekitar 500 peserta, terdiri atas mahasiswa, sivitas akademika, pelaku industri, serta masyarakat umum.
