“Basis pengguna BRImo yang besar, yang diikuti dengan pertumbuhan nilai transaksi, menunjukkan bahwa BRImo telah menjadi bagian dari aktivitas keuangan sehari-hari nasabah. Dengan lebih dari 100 fitur yang tersedia, BRImo terus dikembangkan untuk mendukung berbagai kebutuhan transaksi, sehingga turut mendorong peningkatan pemanfaatan layanan ini,” ujar Aquarius Rudianto.
Di sisi lain, kinerja BRImo yang tumbuh signifikan tersebut pun berdampak positif terhadap pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) BRI yang secara konsolidasian meningkat 9,4% yoy, sehingga total DPK BRI mencapai Rp1.555,1 triliun. Dari sisi komposisi, kualitas pendanaan juga semakin solid, tercermin dari meningkatnya porsi dana murah (CASA) menjadi 68,07% pada Triwulan I 2026 atau setara Rp1.058,6 triliun, dari sebelumnya 65,77% pada Triwulan I 2025. Dalam setahun, pertumbuhan CASA BRI mencapai Rp123,7 triliun.
Penguatan CASA tersebut kemudian mendorong efisiensi biaya dana. Di sisi funding, cost of fund turun dari 3% menjadi 2,3%. Ini menunjukkan efektivitas strategi BRI dalam memperkuat CASA dan mengelola struktur pendanaan yang lebih efisien, sehingga memberikan ruang yang lebih baik bagi margin ke depan.
