Selain pembangunan fisik, pemerintah menambahkan intervensi baru berupa penyediaan sarana air bersih dan penataan lingkungan sekolah untuk menciptakan ekosistem belajar yang lebih sehat dan nyaman. Prioritas awal diberikan pada wilayah terdampak bencana, termasuk di Sumatra dan Aceh, sebelum diperluas ke daerah lain termasuk kawasan 3T.
Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Layanan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqina, menyebut program revitalisasi juga memberi dampak ekonomi langsung di daerah.
“Setiap proyek rata-rata menyerap sekitar 34 tenaga kerja dan mendorong aktivitas ekonomi lokal, mulai dari bahan bangunan hingga konsumsi masyarakat,” jelasnya.
Ia menambahkan, capaian revitalisasi vokasi dan pendidikan khusus pada 2025 juga melampaui target, termasuk pembangunan SMK, SLB, PKBM, hingga unit sekolah baru.
Sementara Ketua Umum PB PGRI, Unifah Rosyidi, menekankan bahwa revitalisasi fisik harus menjadi fondasi perubahan pembelajaran.
“Ini kabar baik, terutama bagi sekolah lama. Tapi tantangan berikutnya adalah memastikan fasilitas ini benar-benar meningkatkan kualitas pembelajaran,” ujar Guru Besar Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta itu.
