Jeffry menegaskan bahwa pasar modal membutuhkan investor yang memiliki literasi dan pemahaman investasi yang memadai. Investor juga perlu memahami profil risiko masing-masing dan tidak semata-mata mengikuti tren pasar.
“Mampu melakukan analisis, tidak hanya ikut-ikutan apa kata influencer, tidak FOMO,” ujarnya.
Pesan tersebut sejalan dengan strategi yang diterapkan Bank Jakarta dalam menghadapi dinamika ekonomi saat ini. Agus mengatakan perusahaan tidak lagi mengejar pertumbuhan semata, melainkan mengutamakan pertumbuhan yang sehat dan berkualitas.
“Kita enggak kejar-kejaran nyari pertumbuhan besar, tetapi yang kita kejar adalah pertumbuhan yang sehat dan berkualitas,” kata Agus.
Baik sektor perbankan maupun pasar modal menilai bahwa kualitas akan menjadi faktor penentu dalam menjaga ketahanan industri keuangan ke depan. Transformasi digital, penguatan tata kelola, transparansi, serta peningkatan literasi keuangan dinilai menjadi fondasi penting untuk menghadapi perubahan yang semakin cepat dan kompleks. (Yudha Krastawan)

