“Pada beberapa wilayah, tuna menjadi lebih dekat ke permukaan sehingga lebih mudah ditangkap. Karena itu, dampak El Niño terhadap sektor perikanan tidak selalu negatif,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa perubahan kondisi oseanografi tetap perlu dicermati karena dapat menimbulkan dampak yang berbeda pada setiap ekosistem laut. Salah satu risiko yang perlu diwaspadai adalah gangguan terhadap terumbu karang di wilayah tertentu akibat perubahan kondisi lingkungan laut.
Karena itu, pemantauan oseanografi secara berkelanjutan menjadi penting tidak hanya untuk memahami risiko yang muncul, tetapi juga untuk mengidentifikasi peluang pemanfaatan sumber daya laut secara lebih optimal dan berkelanjutan.
Pada kesempatan tersebut, Kepala Pusat Riset Laut Dalam (PRLD) BRIN, Prof. A’an Johan Wahyudi, mengatakan bahwa riset kelautan memiliki peran strategis dalam mengungkap dinamika laut sekaligus potensi sumber daya yang dimiliki Indonesia.
Menurutnya, informasi ilmiah yang dihasilkan melalui penelitian oseanografi dapat menjadi dasar bagi pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya laut yang lebih berkelanjutan. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antarlembaga riset untuk mempercepat pengembangan ilmu pengetahuan di bidang kelautan dan laut dalam.
