Tikus diketahui sebagai reservoir utama penyebaran Hantavirus. Menurut Mayrina, kondisi lingkungan di Indonesia pada sejumlah wilayah masih berpotensi menjadi habitat ideal bagi tikus. Hewan ini bersifat oportunis dan cenderung berkembang biak di lingkungan yang lembap, kurang terkelola, serta memiliki ketersediaan sumber makanan yang melimpah. Kepadatan permukiman di kawasan perkotaan turut meningkatkan peluang terbentuknya habitat yang mendukung keberadaan tikus.
Menata Sistem Sanitasi dan Drainase di Permukiman
Salah satu langkah penting dalam pengendalian Hantavirus adalah memutus rantai kehidupan vektor pembawanya di lingkungan permukiman. Di kota-kota besar seperti Jakarta dan Yogyakarta, tantangan utama muncul dari tingginya kepadatan permukiman yang secara tidak langsung menciptakan ruang hidup yang nyaman bagi tikus.
Selain itu, permasalahan juga ditemukan pada sistem drainase. Secara ideal, drainase dirancang untuk mengalirkan limpasan air hujan. Namun, keterbatasan infrastruktur menyebabkan banyak saluran drainase beralih fungsi menjadi tempat pembuangan air limbah rumah tangga atau grey water. Kondisi drainase terbuka yang tercemar limbah organik dari aktivitas domestik menciptakan lingkungan yang mendukung tikus untuk bersarang dan berkembang biak.

