Pengelolaan sampah menjadi semakin kompleks ketika sampah organik dan anorganik tercampur tanpa proses pemilahan sejak awal. Kondisi ini tidak hanya menyulitkan proses pengolahan di hilir, tetapi juga mempercepat terbentuknya timbunan sampah yang membusuk dan berpotensi menjadi sumber makanan bagi tikus.
“Kunci efisiensi pengelolaan sampah adalah pemilahan di tingkat hulu. Selama sampah organik masih tercampur dalam kondisi basah, teknologi pengolahan apa pun akan tetap boros energi dan tidak akan pernah mencapai hasil yang maksimal,” kata Mayrina.
Oleh karena itu, perubahan perilaku masyarakat untuk membiasakan pemilahan sampah sejak dari sumbernya menjadi langkah yang sangat penting. Selain memudahkan proses pengelolaan di tempat penampungan sementara (TPS), pemilahan sampah juga dapat mengurangi potensi terbentuknya habitat yang mendukung keberadaan tikus.
Mayrina menegaskan bahwa upaya memutus rantai penyebaran Hantavirus dan berbagai penyakit berbasis lingkungan memerlukan perubahan cara pandang terhadap pembangunan infrastruktur lingkungan. Program sanitasi perlu diarahkan pada pemenuhan standar yang lebih baik, sementara pemilahan sampah harus menjadi budaya yang dilakukan secara konsisten.

