Kondisi tersebut semakin kompleks dengan masih ditemukannya praktik yang dikenal sebagai Buang Air Besar Sembarangan (BABS) Tertutup. Istilah ini merujuk pada kondisi ketika sebuah rumah tangga telah memiliki toilet, tetapi sistem pembuangan limbahnya belum terhubung dengan tangki septik kedap air yang memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Akibatnya, limbah domestik dapat mengalir langsung ke saluran terbuka atau meresap ke tanah tanpa proses pengolahan yang memadai.
Ketidaksesuaian sistem pengelolaan limbah ini berpotensi mencemari lingkungan sekaligus membuka akses bagi tikus untuk mendekati area hunian masyarakat.
“Masalah kita adalah infrastruktur lingkungan itu selalu dinomorduakan. Kita sering merasa sudah bersih hanya karena punya toilet, padahal selama pembuangannya belum aman dan tangki septiknya belum standar SNI, potensi pencemaran itu tetap ada di sekitar kita,” ujar Mayrina.
Menurutnya, tantangan pembangunan sanitasi masih dipengaruhi oleh keterbatasan biaya, terutama bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah, serta belum meratanya jaringan instalasi pengolahan air limbah perkotaan. Akibatnya, pembangunan infrastruktur lingkungan kerap belum menjadi prioritas dibandingkan kebutuhan infrastruktur lainnya.
Budaya Pemilahan Sampah
Selain sanitasi, pengelolaan sampah juga menjadi faktor penting dalam mengendalikan risiko penyebaran Hantavirus. Salah satu tantangan yang masih sering dijumpai adalah penumpukan sampah di kawasan permukiman maupun pasar tradisional.

