IPOL.ID- Kenaikan harga kedelai yang dipicu melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai memberikan tekanan kepada pelaku usaha tempe di Kabupaten Tangerang, Banten. Kondisi tersebut membuat biaya produksi membengkak dan memaksa perajin melakukan sejumlah penyesuaian agar usaha tetap berjalan.
Hapid (55), perajin tempe asal Kecamatan Curug, mengungkapkan bahwa usaha yang telah digelutinya selama puluhan tahun kini menghadapi tantangan yang tidak ringan. Menurutnya, harga bahan baku utama terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir.
Ia menyebut harga kedelai yang sebelumnya berkisar Rp9.000 per kilogram kini telah mencapai Rp11.000 hingga Rp12.000 per kilogram. Karena sebagian besar kedelai masih berasal dari impor, perubahan nilai tukar rupiah ikut memengaruhi harga yang harus dibayar para perajin.
Tidak hanya kedelai, biaya kebutuhan produksi lainnya seperti plastik pembungkus juga mengalami kenaikan. Akibatnya, pengeluaran untuk menjalankan usaha menjadi jauh lebih besar dibanding sebelumnya.
