Untuk menjaga usahanya tetap bertahan, Hapid memilih mengurangi jumlah produksi. Jika sebelumnya mampu mengolah sekitar 200 kilogram kedelai, kini jumlahnya turun menjadi sekitar 80 kilogram.
Selain memangkas produksi, ia juga melakukan penyesuaian pada ukuran tempe yang dijual di pasaran. Langkah tersebut diambil agar harga jual tetap dapat dijangkau konsumen tanpa harus mengalami kenaikan yang terlalu tinggi.
Menurut Hapid, dampak dari perubahan ukuran produk membuat sebagian pelanggan mengurangi pembelian. Meski demikian, ia tetap berupaya mempertahankan usahanya karena menjadi sumber mata pencaharian utama bagi keluarganya.
Para perajin tempe berharap pemerintah dapat menghadirkan solusi untuk menjaga kestabilan harga kedelai. Dengan harga bahan baku yang lebih terkendali, pelaku usaha kecil diharapkan dapat kembali meningkatkan produksi dan memenuhi kebutuhan masyarakat tanpa terbebani lonjakan biaya yang terus terjadi.(Vinolla)
