Para pengusaha menyediakan hong atau tong dan beton itu untuk dimasukan ke dalam lubang biopori jumbo tersebut.
“Kalau dari antusias dari para pengusaha sih mayoritas memang siap mendukung, gitu ya. Dari teman-teman Green Tera, dari Kedai Mance, dari pondok pesantren, dari Gereja HKBP, dari resto oke semua,” tukasnya.
Para pengusaha di Kecamatan Cipayung meminta kepada jajaran Pemkot Jakarta Timur untuk mengawasi secara rutin biopori jumbo tersebut.
Tujuannya adalah agar pengolahan sampah yang telah dijalani para pengusaha bisa terus berjalan dan merasa diperhatikan oleh pemerintah.
“Tong plastiknya atau bahan material dari beton, bis beton atau hong itu dari teman-teman para pengusaha. Jadi kita ini modal tenaga, karena kita kan punya PPSU, punya teman-teman PJLP. Jadi di mana saja asalkan per, lahan enggak permasalahan, langsung kita tindak lamjuti saja, langsung,” katanya.
Diman menjelaskan, satu lubang memiliki diameter kedalaman sekitar satu meter dengan lebar sekitar 50 sampai 60 sentimeter.

