Dengan skema itu, Hasanuddin berpandangan pemerintah berpeluang menghemat sekitar Rp30 juta per peserta apabila materi kemiliteran dihapus dan seluruh pelatihan difokuskan pada peningkatan kompetensi manajerial.
“Berdasarkan kriteria pelatihan untuk tujuh hari itu menghabiskan Rp5 juta per peserta, maka total kebutuhan anggaran selama 45 hari mencapai sekitar Rp45 juta per orang. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp30 juta digunakan untuk pelaksanaan latihan militer, sedangkan Rp15 juta untuk pembelajaran substansi koperasi,” paparnya.
“Artinya, apabila latihan militer dihilangkan, negara dapat menghemat sekitar Rp30 juta atau sekitar dua pertiga dari total biaya pelatihan setiap peserta,” imbuhnya.
Potensi efisiensi anggaran akan jauh lebih besar apabila diterapkan kepada seluruh peserta latsarmil secara nasional yang mencapai 35.476 orang. Dengan jumlah tersebut, penghematan yang bisa diperoleh negara diperkirakan mencapai nilai triliunan rupiah.
Padahal, kata dia, kebutuhan utama calon manajer Kopdes bukan kemampuan fisik maupun keterampilan militer, melainkan kemampuan mengelola organisasi, menyusun strategi bisnis, memahami tata kelola keuangan, pemasaran, hingga pemberdayaan masyarakat.

