Sejalan dengan itu, perwakilan dari Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian Jawa Timur Dr Ismatul Hidayah SP MP mengapresiasi penekanan aspek kesederhanaan desain teknologi yang dibuat. Hal itu agar sejalan dengan kebutuhan para petani kelapa yang disasarkan. “Tujuannya kan untuk memudahkan petani, jadi kalau dibandingkan dengan cara manual itu harus lebih efisien, aman, dan mudah diaplikasikan,” tutur perempuan yang akrab disapa Isma ini.
Salah seorang petani lokal yang turut melakukan uji coba, Muhammad Basiran, mengungkapkan bahwa memang alat yang dirancang oleh dosen ITS itu dirasa lebih efektif dibandingkan dengan cara konvensional. “Selain itu, metode penggunaan alat juga saya rasa mudah untuk dipelajari dan diimplementasikan oleh petani seperti saya,” jelas lelaki yang akrab disapa Basiran itu.
Pada proses produksinya, teknologi yang mendapat dukungan dari Kementan RI ini turut menggandeng PT Smarttech Reborn 2007 yang merupakan sebuah perusahaan manufaktur yang dimiliki oleh salah satu alumnus Teknik Mesin ITS. Mitra tersebut bertindak sebagai produsen, yang kemudian produk dipasarkan melalui ITS Science Techno Park untuk dimasukkan ke dalam e-katalog Kementan.

