Karena itu, Bima menekankan pentingnya pemanfaatan data, dialog, dan pendekatan yang berpusat pada kebutuhan warga dalam proses perumusan kebijakan. Ia menilai ASN perlu lebih aktif turun ke lapangan agar dapat memahami persoalan yang dihadapi masyarakat secara langsung.
“Apa yang kita kerjakan memang yang dibutuhkan oleh warga, dirasakan oleh warga, dan menjadi isu utama. Design Thinking itu orientasinya pada human center, pada kemampuan kita untuk memiliki empati apa yang dibutuhkan,” katanya.
Lebih lanjut, Bima mengungkapkan bahwa Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) saat ini memerhatikan sekitar 140 daerah yang menghadapi tantangan dalam memenuhi SPM akibat keterbatasan kemampuan anggaran. Kondisi tersebut memerlukan kreativitas dan inovasi ASN agar layanan dasar di bidang pendidikan dan kesehatan tetap berjalan optimal.
Menurutnya, ASN masa depan tidak cukup hanya menguasai aspek administratif. ASN juga harus mampu membangun kolaborasi, memanfaatkan data secara tepat, serta menjalin komunikasi yang baik dengan masyarakat untuk menghasilkan kebijakan yang berdampak.

