“Massimo Rivola melakukan pekerjaan luar biasa. Dia berhasil membuat Bagnaia percaya bahwa Aprilia bisa memberinya motor untuk kembali menjadi juara dunia,” katanya.
Pernat juga mengungkapkan, Bagnaia bahkan rela mengorbankan nilai kontrak yang lebih besar demi proyek yang dianggap lebih kompetitif.
“Bagnaia sudah menghasilkan banyak uang sepanjang kariernya. Karena itu, dia menerima tawaran yang nilainya mungkin hanya setengah dari Yamaha. Ini murni keputusan teknis,” jelas Pernat.
Mantan manajer pembalap tersebut menegaskan, satu-satunya tujuan Bagnaia adalah kembali meraih kemenangan dan membuktikan dirinya masih mampu menjadi yang terbaik.
“Dia mengambil keputusan untuk menang. Dan kemenangan itu berarti mengalahkan Ducati serta Marc Marquez,” tegasnya.
Mulai MotoGP 2027, Bagnaia akan membela Aprilia Racing dan berduet dengan Marco Bezzecchi. Kehadirannya menjadi bagian dari proyek ambisius pabrikan asal Noale itu untuk mematahkan dominasi Ducati di era regulasi baru MotoGP.
Jika prediksi Pernat menjadi kenyataan, MotoGP 2027 tak hanya menghadirkan persaingan baru di lintasan, tetapi juga menjadi ajang pembuktian bagi Bagnaia bahwa ia masih layak berada di puncak—serta membuat Ducati menyesali keputusan melepas salah satu pembalap terbaiknya. (bam)
