Feni menyampaikan bahwa pelatihan tersebut memberikan pengalaman yang sangat berharga dalam meningkatkan kompetensi di bidang metode analitik nuklir berbasis XRF. X-Ray Fluorescence (XRF) merupakan teknik analitik non-destruktif yang banyak digunakan untuk menentukan komposisi unsur secara kualitatif maupun kuantitatif pada berbagai jenis material.
“Sebagai periset yang diberi kesempatan mengikuti pelatihan ini, saya merasa kegiatan ini sangat berguna untuk memperkaya pengetahuan saya, mulai dari aspek teori hingga interpretasi hasil analisis berbasis XRF. Pelatihan ini juga sangat penting bagi kelompok riset kami, yaitu Metode Analitik Nuklir di bawah Pusat Riset Teknologi Analisis Berkas Nuklir,” ujarnya saat diwawancarai Tim Humas, Senin (6/7).
Feni menambahkan, kesempatan untuk berdiskusi langsung dengan para pakar XRF dunia menjadi nilai tambah yang sangat penting dalam pengembangan kapasitas riset.
“Melalui pelatihan ini, saya dapat bertemu dan berdiskusi langsung dengan para ahli di bidang XRF, seperti Andreas Karydas, serta para pengajar yang sangat kompeten, yaitu Alessandro Migliori dan Giuliana Aquilanti, serta mendapatkan pengalaman untuk bekerja di laboratorium canggih di IAEA. Selain itu, saya juga berkesempatan bertukar pengalaman dengan peserta dari berbagai negara, seperti Nigeria, Argentina, Guatemala, Sri Lanka, Myanmar, Bangladesh, dan Turki. Interaksi ini membuka peluang kolaborasi internasional di masa mendatang,” jelasnya.

