“Yang saya kritik adalah kenapa tidak membiarkan petani punya inisiatif. Ini mengingatkan saya pada pola tanam paksa di zaman kolonial. Kalian bebas bertani, tetapi harus menanam komoditas tertentu. Jadi, itu yang saya sampaikan hanya supaya kulturnya sedikit berubah,” tegasnya.
Ia berharap pola hubungan antara Perhutani, koperasi, dan kelompok tani dapat dibangun melalui dialog yang lebih terbuka dengan mengedepankan musyawarah. Dengan demikian, kemitraan tidak hanya berorientasi pada target produksi, tetapi juga memberikan ruang bagi petani untuk berkembang serta menciptakan sistem yang lebih adil dan berpihak pada kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan hutan. (Tim Redaksi)
