Bersama-sama, mereka menyusun narasi merepresentasikan keseharian, tantangan, serta harapan terhadap masa depan komunitas pesisir Jakarta.
Menurut metode Photovoice membuka ruang bagi komunitas untuk menyampaikan pengalaman hidup mereka secara autentik.
Kurator Suara dari Muara, Yayasan Riset Visual mataWaktu, Gunawan Widjaja mengatakan, ketika masyarakat diberikan ruang untuk merekam dan menceritakan kehidupannya sendiri, yang lahir bukan sekadar dokumentasi visual, melainkan pengalaman yang mampu membangun empati.
“Suara dari Muara mengajak kita mendengar cerita langsung dari mereka yang menjalaninya setiap hari,” kata Gunawan, Minggu (5/7/2026).
Sebagai tuan rumah, diungkapkan oleh Gunawan, Museum Bahari sangat senang bahwa Suara dari Muara dapat pulang ke rumah. Kegiatan ini diharapkan dapat memperluas pemahaman publik mengenai warisan maritim Jakarta yang tidak hanya berbicara tentang sejarah, tetapi juga tentang masyarakat yang hingga hari ini hidup dan bergantung pada laut.
“Museum Bahari ingin jadi ruang yang mempertemukan masyarakat dengan cerita-cerita yang hidup di sekitar pesisir Jakarta. Melalui Suara dari Muara, kami ajak pengunjung untuk datang, dengar, dan memahami pengalaman perempuan Muara Angke sebagai bagian dari warisan maritim yang terus hidup hingga hari ini,” kata Kepala Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta, Misari.

