Sementara, salah satu peserta dari Muara Angke, Nurweni, yang juga Ketua LMK (Lembaga Musyawarah Kelurahan) berharap pengalaman itu dapat membantu masyarakat mengenal kehidupan perempuan pesisir dengan lebih dekat.
“Kami harap melalui karya-karya ini, masyarakat dapat lihat kehidupan kami apa adanya. Di balik hasil laut yang mereka nikmati setiap hari, ada perjuangan, ketidakpastian, dan kerja keras sering kali tak terlihat. Kami ingin suara dan pengalaman kami juga didengar,” ucap Nurweni.
Sebagai informasi, kegiatan Suara dari Muara dapat dikunjungi di Museum Bahari mulai 4 hingga 31 Juli 2026. Pengunjung tidak hanya bakal menemukan rangkaian foto dan karya seni, tetapi juga diajak mendengar suara-suara yang lahir dari pengalaman nyata perempuan Muara Angke, sebuah pengingat bahwa kehidupan pesisir merupakan bagian tidak terpisahkan dari perjalanan Jakarta. (Joesvicar Iqbal)

