Karena saat itu, lanjut dia, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta belum memiliki anggaran untuk membangun flyover, kemudian dia meminta agar dilakukan kajian dahulu terhadap permasalahan tersebut.
Setelah kajian rampung, proyek Flyover Latumenten kemudian masuk ke proses lelang dan mulai dikerjakan pada penghujung 2025.
“Akhirnya saya minta dibuatkan kajian terkait permasalahan ini. Setelah itu masuk ke dalam proses lelang dan sekarang sudah mulai terlihat hasilnya. Mudah-mudahan bisa selesai on time seperti diharapkan Pak Gubernur,” tukasnya.
Kent menjelaskan, Flyover Latumenten nantinya akan terintegrasi dengan berbagai moda transportasi umum, mulai dari KRL Commuter Line hingga Transjakarta.
Sebagai penghubung antar moda, akan dibangun skywalk yang dilengkapi lift, Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) ramah disabilitas, serta halte Transjakarta yang terintegrasi dengan kawasan sekitar.
“Jadi konsep itu dirancang untuk memberikan kemudahan bagi seluruh pengguna jalan, termasuk penyandang disabilitas, lansia, Ibu hamil, dan masyarakat yang membawa barang atau kereta bayi. Kehadiran lift pada JPO akan mempermudah akses menuju halte Transjakarta tanpa harus menggunakan tangga,” ungkapnya.

