Dimana pihaknya akan menerjunkan thermal drone atau teknologi yang menggunakan kamera inframerah untuk mendeteksi radiasi panas untuk menganalisa sumber kebakaran, titik-titik apinya.
“Jadi kami hanya bisa melakukan monitoring analisa melalui drone secara berkala,” bebernya.
Untuk langkah berikutnya, dengan mengerahkan dua mobile monitoring sistem, yang bertujuan untuk memantau udara di lokasi kebakaran. Salah satunya memonitor seperti SO_2 (sulfur dioxide), NO_2 (nitrogen dioxide), dan juga PM 1.0 dan PM 2.5.
“Kalau baku mutunya yang dibilang baik itu 15,5 dan sedang dari 15,5 sampai 55,5, dan setelah itu tidak sehat dan membahayakan dan lain sebagainya. Dan ini sudah sampai ke tingkat 1.000. Jadi berapa hari ini sudah tingkat 1.000, tetapi tadi malam saya lihat langsung menurun drastis,” paparnya.
Lebih lanjut, Diaz mengungkapkan dengan karakteristik yang sama seperti kebakaran lahan gambut ini, pemerintah melalui Kementerian Kehutanan tekah menerjunkan 30 personel tim Manggala Agni dari wilayah Sulawesi dan Jawa Barat.

