Hingga kini, sebanyak 550 kepala keluarga telah terintegrasi dalam sistem pemberdayaan tersebut dengan melibatkan 79 anggota aktif, termasuk 42 perempuan mantan buruh tambak. Program itu juga mencatat omzet mencapai Rp 788,4 juta dalam setahun.
Iriawan menilai program KANG ILING menjadi contoh nyata bahwa program TJSL perusahaan harus mampu menciptakan kemandirian masyarakat dan memberikan dampak jangka panjang.
“Program seperti ini menunjukkan, CSR Pertamina tidak hanya berorientasi pada bantuan semata, tetapi mampu membangun kemandirian masyarakat melalui inovasi, pemberdayaan ekonomi, serta pelestarian lingkungan. Saya berharap program ini terus berkembang sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” kata Iriawan.
Ia mengingatkan agar seluruh pihak menjaga keberlanjutan program yang telah dibangun bersama masyarakat. ”Lanjutkan dan bina terus. Apa yang sudah dibangun, jangan ditinggalkan, karena biar Pertamina semakin jaya,” ujarnya.
Salah seorang penerima manfaat program, Solikha, mengaku kehadiran Pertamina telah mengubah wajah kampungnya. Sebelum program berjalan, limbah rumah tangga dan limbah pengolahan ikan kerap dibuang begitu saja ke saluran air.

