Lebih lanjut Erick menjelaskan, jumlah peserta Piala Presiden 2026 sengaja dibatasi agar tidak mengganggu agenda kompetisi resmi di masing-masing negara. Selain itu, aspek kebugaran dan pemulihan pemain menjadi perhatian utama agar para pemain tidak mengalami kelelahan maupun cedera sebelum musim kompetisi bergulir.
“Kami mempertimbangkan jadwal kompetisi setiap klub, baik di dalam maupun luar negeri. Jangan sampai turnamen pramusim justru mengganggu persiapan tim menghadapi kompetisi yang sesungguhnya,” jelasnya.
Selain menjadi ajang pemanasan, Erick berharap Piala Presiden 2026 mampu menghadirkan hiburan berkualitas bagi masyarakat sekaligus memperkuat citra positif sepak bola Indonesia. Ia menilai antusiasme suporter harus diiringi dengan budaya mendukung tim secara dewasa dan bertanggung jawab.
Menurut Erick, PSSI bersama PT Liga Indonesia Baru juga terus berkoordinasi dengan FIFA dalam membangun atmosfer pertandingan yang aman dan kondusif.
“FIFA mengingatkan bahwa sepak bola Indonesia pernah memiliki catatan kelam. Karena itu, kepercayaan yang kembali diberikan kepada kita harus dijaga bersama. Operator liga, klub, dan suporter memiliki tanggung jawab yang sama untuk menciptakan pertandingan yang aman, nyaman, dan tertib,” tegasnya.

