Ia menambahkan, dampak lanjutan sangat bergantung pada durasi gangguan pasokan minyak dunia. Jika hanya berlangsung beberapa pekan, tekanan terhadap IHSG dan rupiah diperkirakan masih dalam batas wajar.
“Namun jika meluas hingga mengganggu jalur energi utama seperti Selat Hormuz, pasar akan mulai memperhitungkan risiko twin deficit, yakni tekanan fiskal dan pelemahan sektor eksternal secara bersamaan,” jelasnya.
Karena itu, Yusuf mengingatkan pemerintah tidak terburu-buru menaikkan harga BBM bersubsidi. Reformasi subsidi, terutama LPG 3 kilogram, dinilai lebih efektif menjaga ruang fiskal tanpa memicu gejolak sosial.
Dari sisi moneter, ia menilai koordinasi erat antara pemerintah dan Bank Indonesia menjadi kunci. Menurutnya, kenaikan suku bunga bukan solusi utama karena tekanan yang terjadi berasal dari sisi pasokan.
“Fokus kebijakan sebaiknya menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan volatilitas, bukan mempertahankan nilai tukar pada level tertentu dengan biaya likuiditas yang terlalu besar,” tegasnya.
