Pandangan serupa disampaikan Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede. Menurutnya, lonjakan harga minyak meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap risiko twin deficit, yakni defisit fiskal dan defisit transaksi berjalan yang terjadi secara bersamaan. Kondisi tersebut mendorong investor mengalihkan dana ke aset-aset safe haven.
“Seiring meningkatnya ketegangan geopolitik, permintaan terhadap aset safe haven ikut meningkat sehingga memberi tekanan terhadap rupiah,” katanya.
Di tengah tekanan tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan kondisi APBN tetap terkendali.
“APBN masih aman,” tegas Purbaya di Kementerian Keuangan, Jumat (24/7/2026).
Ia mengakui kenaikan harga minyak memang mempersempit ruang fiskal pemerintah untuk menambah belanja baru. Namun, kondisi tersebut belum mengganggu keberlanjutan fiskal maupun pelaksanaan berbagai program prioritas.
“Kalau harga minyak naik lagi, ruang fiskalnya memang lebih sempit, tetapi tidak membahayakan APBN,” ujarnya.
Purbaya juga memastikan lonjakan harga minyak tidak akan mengganggu pelaksanaan paket stimulus ekonomi semester II-2026. Pasalnya, penyusunan stimulus tersebut sejak awal telah menggunakan asumsi harga minyak di kisaran 100 dolar AS per barel.
