Di salah satu potongan dinding masih tegak berdiri, selembar jadwal piket kelas sudah pudar warnanya masih menempel erat. Lembaran kertas itu menjadi saksi bisu aktivitas belajar mengajar yang tiba-tiba terputus, seolah baru kemarin siswa mencatat nama mereka untuk bertugas menjaga kebersihan kelas.
Diketahui saat peristiwa itu terjadi, empat ruang kelas beserta satu Unit Kesehatan Sekolah (UKS) ambruk seketika. Kini, seluruh bangunan utama telah dikosongkan. Tak terdengar lagi riuh suara tawa gembira anak-anak atau sorak guru yang sedang mengajar disana.
Ratusan siswa terpaksa harus berbagi tempat belajar dengan menumpang di SDN Kebayoran Lama Selatan 11 yang bertetangga. Hanya sepotong lorong pendek berjarak beberapa meter dari reruntuhan masih berdiri utuh, kini digunakan sebagai ruang kepala sekolah dan ruang administrasi.
Salah satu orang tua murid kelas lima, Evi, 33, masih teringat jelas peristiwa mengerikan itu terjadi tepat saat libur Pilkada, November 2024 silam.
“Nggak ada angin, nggak ada hujan, tiba-tiba roboh. Robohnya itu juga nggak langsung, pelan sekitar pukul setengah tujuh pagi. Nah, waktu sore hari hujan deras, baru langsung bruk gitu saja,” ungkap Evi mengenang kejadian, Selasa (21/7).
