Sejak saat itu, lanjut Evi, kehidupan belajar anak-anaknya berubah total. Anaknya kini harus masuk sekolah pada siang hari, membuat waktu istirahat dan kegiatan lain di luar sekolah menjadi terganggu.
“Intinya nggak nyaman, anak-anak tuh inginnya sekolah di sekolahannya sendiri. Masuk siang itu bikin kurang istirahat. Terus harapan anak-anak itu besar banget, ‘Ya Allah, kapan ya sekolah pagi lagi biar aku bisa ngaji?’,” kata Evi sambil menirukan ucapan putrinya.
Keterlambatan perbaikan sekolah itu pun membuat Evi dan para orang tua lainnya merasa kecewa mendalam. Bagaimana mungkin sebuah fasilitas pendidikan di kawasan strategis di wilayah Jakarta Selatan (Jaksel) dibiarkan terbengkalai selama bertahun-tahun tanpa ada kejelasan?
“Kembali lagi secara anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar/SD kan inginnya masuk pagi, apalagi di Jaksel gitu kan. Buat orang tua murid juga kan mikir, ini kita di Jakarta lho, Jakarta Selatan lagi! Masa seperti ini nggak diperbaiki, kok lama banget. Ini benar-benar roboh yang nggak layak banget, miris banget,” tutupnya. (Joesvicar Iqbal)
