Sebab, kata bendara umum Bamus Betawi 1982 itu penyediaan lahan pemakaman merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang tidak boleh diabaikan di tengah pesatnya pembangunan Jakarta.
“Berdasarkan pengalaman saya menghadiri beberapa prosesi pemakaman. Saya melihat satu liang kubur kerap digunakan kembali untuk dua hingga tiga jenazah karena terbatasnya lahan,” beber anggota DPRD 2 periode itu.
Selain menyoroti persoalan pemakaman, loyalis Muhaimin Iskandar itu juga mengkritisi lambannya proses pelaksanaan anggaran di lingkungan Pemprov DKI.
Dia juga menilai besarnya anggaran yang telah dialokasikan belum diimbangi dengan percepatan realisasi program sehingga manfaatnya belum maksimal dirasakan masyarakat.
“Yusuf mencontohkan masih adanya proses anggaran yang memakan waktu terlalu lama hingga pelaksanaan program tertunda,” tandasnya.(Sofian)
