Penguatan koordinasi tersebut juga menjadi langkah antisipatif menghadapi puncak fenomena El Nino diprediksi oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bakal terjadi pada Agustus hingga September 2026.
Kepala BNPB menekankan agar seluruh unsur terlibat dan terus mengoptimalkan operasi gabungan penanganan karhutla melalui satgas darat maupun udara. Selain itu, pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga akan diperkuat dengan penambahan armada pesawat untuk mempercepat pengendalian kebakaran dan meminimalisir potensi meluasnya titik api.
Saat ini, dukungan operasi Satgas Udara Penanganan Karhutla di Kalteng oleh BNPB terdiri dari heli patroli sebanyak dua unit, heli waterbombing tiga unit, dan pesawat jenis caravan untuk OMC.
“OMC perlu ditambah karena sekarang di Kalimantan Tengah masih ada awan hujan, pertumbuhan awan hujan, dan kita sepakat nanti untuk dimaksimalkan,” tukas Suharyanto.
Sejumlah titik prioritas penanganan karhutla telah diidentifikasi, di antaranya, Desa Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau dan Kelurahan Kameloh Baru, Kota Palangka Raya. Pemprov Kalteng sebelumnya telah menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Karhutla yang berlaku sejak 26 Mei hingga 31 Oktober 2026.
