Ipol.idIpol.id
Aa
  • Home
  • News
  • Nasional
    • Jabodetabek
    • Jakarta Raya
    • Nusantara
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Kriminal
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Si Ipol
  • Opini
  • More
    • Video
    • Gaya hidup
    • Sosok
    • Tekno/Science
    • Galeri
    • Indeks Berita
Reading: RI Siapkan Terapi Kanker Generasi Baru Melalui Pengembangan Teknologi AB-BNCT di Indonesia
Share
Ipol.idIpol.id
Aa
Cari berita disini...
  • Home
  • News
  • Nasional
    • Jabodetabek
    • Jakarta Raya
    • Nusantara
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Kriminal
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Si Ipol
  • Opini
  • More
    • Video
    • Gaya hidup
    • Sosok
    • Tekno/Science
    • Galeri
    • Indeks Berita
Follow US
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan IPOL.ID
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
Ipol.id > Gaya hidup > RI Siapkan Terapi Kanker Generasi Baru Melalui Pengembangan Teknologi AB-BNCT di Indonesia
Gaya hidup

RI Siapkan Terapi Kanker Generasi Baru Melalui Pengembangan Teknologi AB-BNCT di Indonesia

Iqbal
Iqbal Published 05 Aug 2026, 10:24
Share
5 Min Read
operasi jantung ft kemnkes
Menurut Amarulla, tantangan terbesar dalam penanganan kanker terletak pada karakteristik penyakit yang sangat kompleks. Foto: Kemenkes
SHARE
IPOL.ID – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mempercepat pengembangan Accelerator-Based Boron Neutron Capture Therapy (AB-BNCT) sebagai salah satu teknologi terapi kanker generasi baru di Indonesia. Pengembangan teknologi ini menjadi bagian dari strategi BRIN membangun kemandirian riset dan inovasi kesehatan sekaligus menghadirkan alternatif terapi yang lebih presisi bagi pasien kanker.
Komitmen tersebut disampaikan Wakil Kepala BRIN Prof. Amarulla Octavian saat memaparkan arah pengembangan riset dan inovasi terapi kanker pada International Tutorial and Workshop Particle and Heavy Ion Transport Code System yang diselenggarakan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Udayana di Denpasar, Bali, Selasa (28/7). Forum internasional tersebut mempertemukan lembaga riset, perguruan tinggi, rumah sakit, industri, serta mitra internasional untuk memperkuat kolaborasi pengembangan teknologi partikel dan ion berat bagi layanan kesehatan.
Dalam paparannya berjudul Current Status and Future Plan of Research and Innovations to Support Cancer Therapy in Indonesia, Amarulla menjelaskan bahwa meningkatnya kasus kanker menuntut Indonesia tidak hanya memperkuat layanan kesehatan, tetapi juga membangun fondasi riset yang mampu menghasilkan teknologi diagnosis dan terapi yang lebih efektif. Paparan tersebut disusun berdasarkan kajian berbagai artikel ilmiah periode 2023–2025 yang dipadukan dengan data kesiapan riset dan infrastruktur BRIN tahun 2026.
Menurut Amarulla, tantangan terbesar dalam penanganan kanker terletak pada karakteristik penyakit yang sangat kompleks. Perubahan genomik, keragaman sel tumor, hingga kemampuan sel kanker bermetastasis membuat pendekatan terapi terus berkembang menuju pengobatan yang semakin presisi.
“Kanker tetap sulit ditata laksana karena karakteristiknya yang heterogen, adaptif, dan dipengaruhi mikrolingkungan tumor. Oleh karena itu, terapi masa depan akan bersifat biomarker-guided, berbasis kombinasi, dioptimalkan dari sisi delivery, dan dipantau secara dinamis,” ujar Amarulla.
Sejalan dengan perkembangan tersebut, BRIN memperkenalkan Accelerator-Based Boron Neutron Capture Therapy (AB-BNCT) sebagai salah satu inovasi strategis yang tengah dipersiapkan untuk mendukung terapi kanker di Indonesia. Teknologi ini bekerja melalui pemberian senyawa boron yang terakumulasi secara selektif pada sel kanker, kemudian diaktivasi menggunakan neutron sehingga menghasilkan reaksi yang mampu menghancurkan sel kanker dengan kerusakan minimal pada jaringan sehat di sekitarnya.
Selain AB-BNCT, Amarulla juga memaparkan perkembangan berbagai teknologi terapi kanker berbasis radiasi yang saat ini berkembang di dunia, mulai dari radioterapi, Boron Neutron Capture Therapy (BNCT), Proton Beam Therapy (PBT), hingga pemanfaatan cyclotron untuk produksi radioisotop medis. Menurutnya, perkembangan tersebut membuka peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat kapasitas riset nasional melalui sinergi berbagai pemangku kepentingan.
BRIN sendiri saat ini mengelola 30 proyek penelitian bertema kanker hingga triwulan pertama tahun 2026. Penelitian tersebut mencakup pengembangan biomarker, radiofarmaka, nanoteknologi, penemuan senyawa bioaktif, hingga teknologi diagnostik dan teranostik sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem riset kesehatan yang terintegrasi dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Untuk mempercepat pemanfaatan hasil riset tersebut, BRIN juga menyiapkan pengembangan AB-BNCT sebagai program unggulan nasional. Program ini didukung oleh kesiapan infrastruktur kedokteran nuklir yang telah dimiliki BRIN, termasuk fasilitas cyclotron, hotlab farmasi, dan PET/CT yang telah dioperasikan bersama Rumah Sakit Kanker Nasional Dharmais sejak tahun 2012.
Selain infrastruktur, BRIN telah menyusun peta jalan pengembangan AB-BNCT hingga tahun 2029 yang meliputi tahapan perizinan, pembangunan fasilitas, instalasi peralatan, hingga target operasional layanan pasien. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan teknologi terapi kanker yang aman, efektif, dan siap dimanfaatkan dalam pelayanan kesehatan nasional.
Amarulla menegaskan bahwa keberhasilan pengembangan teknologi terapi kanker tidak dapat dicapai oleh satu institusi saja. Kolaborasi lintas disiplin antara lembaga riset, perguruan tinggi, rumah sakit, industri, dan mitra internasional menjadi faktor utama untuk mempercepat hilirisasi hasil penelitian menjadi teknologi yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
“Pendekatan multidisiplin dan kolaboratif bersama Universitas Udayana, JAEA, RSKN Dharmais, dan International Hospital Sanur Bali menjadi kunci untuk menerjemahkan riset ini menjadi manfaat nyata bagi pasien kanker di Indonesia,” tutup Amarulla.
Melalui forum internasional tersebut, BRIN bersama Universitas Udayana, Japan Atomic Energy Agency (JAEA), Sumitomo Heavy Industries Jepang, serta berbagai mitra nasional dan internasional memperkuat jejaring kolaborasi dalam pengembangan riset terapi kanker. Sinergi tersebut diharapkan mampu mempercepat lahirnya teknologi kesehatan yang aman, efektif, dan berkelanjutan sekaligus meningkatkan kualitas layanan penanganan kanker di Indonesia. (ahmad)

GN

Follow Akun Google News Ipol.id

Jangan sampai kamu ketinggalan update berita menarik dari kami
TAGGED: Generasi Baru, terapi kanker
Share this Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram Copy Link
Previous Article pssi kongres Pemerintah Komitmen Menuju Piala Dunia 2030
Next Article optimize 10 Tekan Angka Kematian Bayi Akibat Penyakit Jantung Bawaan, Sistem Layanan Jantung Anak di Daerah Harus Segera Diperkuat

TERPOPULER

TERPOPULER
IMG 20260812 WA0093
HeadlineInternasional

Catatan Gempa Bersejarah di Kolombia Jadi Pelajaran Berharga Bagi Indonesia

Jakarta Raya
Camat Pasar Minggu Dorong Pekerja Bukan Penerima Upah Jadi Peserta BPJS Ketenagakerjaan
13 Aug 2026, 15:24
HeadlineJabodetabek
Tim Gabungan BNN RI dan Polda Metro Jaya Sikat Bos Narkoba Kampung Bahari, Sarang Bandar Diobok-obok
13 Aug 2026, 16:45
EkonomiHeadline
Garuda Indonesia Copot Direktur Niaga Reza Aulia Hakim, Kegiatan Operasional Berjalan Normal
13 Aug 2026, 14:19
Ekonomi
BPJS Ketenagakerjaan Mampang Serahkan JKM kepada Ahli Waris Ketua RT
13 Aug 2026, 12:25
Ipol.idIpol.id
Follow US

IPOL.ID telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor 1084/DP-Verifikasi/K/IV/2023
https://dewanpers.or.id/data/perusahaanpers

Copyright © IPOL.ID. All Rights Reserved.

  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan IPOL.ID
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
Logo Ipol.id Logo Ipol.id
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?