IPOL.ID – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Metalurgi (PRM) menampilkan berbagai capaian riset unggulan di bidang material dan metalurgi yang mendukung transisi energi, kesehatan, dan industri berkelanjutan. Kepala Pusat Riset Metalurgi BRIN Ika Kartika menjelaskan, riset-riset yang dilakukan juga diarahkan untuk menghasilkan material baru yang siap diimplementasikan di sektor industri.
“Kami fokus mengembangkan material bernilai tambah dari sumber daya lokal, seperti nikel, silika, dan logam lainnya, yang dapat menjadi bahan dasar teknologi energi dan kesehatan,” jelas Ika dalam ajang The 6th International Seminar on Metallurgy and Materials (ISMM 2025) di Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie Serpong, pada Rabu (5/11).
Berbagai inovasi material tersebut, lanjutnya, merupakan wujud kontribusi nyata BRIN dalam mengakselerasi kemandirian teknologi nasional. Di samping itu juga memperkuat daya saing industri berbasis sains di Indonesia.
“Beberapa inovasi unggulan yang tengah dikembangkan antara lain baterai litium berbasis air laut dan nikel, silika berkemurnian tinggi, paduan logam untuk implan medis, serta cat anti-fouling ramah lingkungan untuk aplikasi kelautan. BRIN juga telah menghasilkan inovasi baja laterit dan klip aneurisma untuk kebutuhan medis yang seluruh proses risetnya dilakukan di dalam negeri,” ujarnya.
Menurutnya, upaya ini selaras dengan arah kebijakan nasional yang menempatkan material dan metalurgi sebagai fondasi penting bagi pembangunan teknologi di Indonesia.
Direktur Jenderal Riset dan Inovasi Kemendikti Saintek, M. Fauzan Adziman menegaskan, sektor ini merupakan salah satu dari delapan industri strategis nasional yang sedang diperkuat pemerintah.
“Bidang material dan metalurgi merupakan salah satu dari delapan industri strategis yang kita bangun. Saat ini kami di Kemendikti Saintek bekerja sama dengan Kementerian Keuangan dan berkoordinasi dengan BRIN, untuk mengembangkan teknologi material dan manufaktur yang memiliki basis penting bagi ekonomi Indonesia,” ujar Fauzan.
Lebih lanjut ia menjelaskan, pengembangan material strategis meliputi baja, nikel, hingga logam tanah jarang, bahkan material maju untuk sektor otomotif, satelit, medis, dan pertahanan.
“Bidang ini merupakan mother of technology, dukungan Kemendikti Saintek salah satunya melalui Program Riset Strategis Diharapkan teknologi tersebut dapat menjadi sumber ekonomi dan pemerataan pembangunan ke depan,” tambahnya.
Fauzan juga menekankan pentingnya riset yang berbasis pada kebutuhan nyata. “Kita ingin peneliti menyelesaikan problem yang berangkat dari masalah konkret di lapangan. Berkolaborasi dengan industri yang berbasis iptek akan menjadi kunci untuk pembangunan berkelanjutan,” tuturnya.
Dari Baterai Litium hingga Material Medis
Salah satu hasil riset unggulan PRM BRIN adalah pengembangan bahan baku baterai litium dari pengolahan nikel dan ekstraksi litium dari air laut (brine water). Tim peneliti tengah memetakan potensi sumber litium di beberapa wilayah Indonesia untuk mendukung kemandirian energi nasional.
Selain itu, BRIN sukses menghasilkan pasir silika berkemurnian 99,99% untuk kebutuhan industri teknologi tinggi. Tim peneliti juga mengembangkan paduan logam untuk alat kesehatan, seperti implan panggul (total hip arthroplasty) yang telah diuji di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), disesuaikan dengan karakteristik anatomi manusia Indonesia.
Inovasi lainnya termasuk cat anti-fouling ramah lingkungan berbasis logam tanah jarang (cerium) untuk aplikasi maritim, serta pengembangan baja laterit hasil olahan nikel laterit untuk kebutuhan transportasi dan energi.
“Kami juga sudah memperoleh lisensi untuk alat ukur clip aneurisma, implan pembuluh darah otak hasil riset anak bangsa yang berfungsi mencegah stroke,” tambah Ika.
Dalam bidang kerja sama internasional, BRIN telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Swinburne University of Technology Australia, untuk riset bersama pengolahan mineral kritis bahan baku baterai dan pengembangan program degree by research bagi peneliti magister dan doktoral.
Kepala OR Nanoteknologi dan Material BRIN Ratno Nuryadi menjelaskan, riset material dan metalurgi memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan target net zero emission.
“Kami memiliki 11 pusat riset yang berfokus pada pengembangan material — mulai dari biomaterial, komposit, energi, katalisis, hingga nanoteknologi. Semua diarahkan untuk mendukung transisi energi dan teknologi hijau,” jelas Prof. Ratno.
Dia menambahkan, BRIN juga mengembangkan berbagai inovasi material yang ramah lingkungan, seperti plastik biodegradable yang mudah terurai dan tidak mencemari bumi. Arah riset BRIN kini menitikberatkan pada pengurangan ketergantungan energi fosil, pengembangan baterai, hidrogen, dan teknologi penyimpanan energi berbasis material lokal.
“Melalui riset-riset unggulan tersebut, BRIN berupaya menjadikan ilmu material sebagai fondasi utama menuju masa depan industri, energi, dan lingkungan yang berkelanjutan di Indonesia,” pungkasnya. (tim)
