IPOL.ID – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Kementerian Luar Negeri (Kemlu) memaparkan hasil kajian bersama terkait strategi peningkatan kerja sama perdagangan dan investasi Indonesia di pasar non-tradisional, melalui studi kasus Chile dan Nigeria.
Plt. Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan BRIN, Anugerah Widiyanto, menggarisbawahi pentingnya diversifikasi pasar ekspor Indonesia di tengah gejolak geopolitik dan dinamika ekonomi global yang semakin kompleks. Ketergantungan Indonesia pada pasar tradisional dinilai meningkatkan kerentanan ekonomi, sehingga perlu dibangun strategi ekspansi ke negara-negara emerging market.
Ia menekankan urgensi membuka pasar baru sebagai langkah strategis untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional. “Dengan melakukan diversifikasi pasar ke negara-negara non-tradisional dapat mendukung keberlanjutan untuk surplus perdagangan Indonesia,” kata Anugerah, dalam pertemuan yang berlangsung di Ruang Jirap, Gedung B.J. Habibie BRIN, Thamrin, Jakarta, Jumat (5/12/2025).
Melalui kajian bersama, lanjutnya, BRIN dan Kemlu memetakan peluang dan tantangan ekspor serta investasi Indonesia di Chile dan Nigeria, dua negara yang merepresentasikan pasar potensial di Amerika Selatan dan Afrika.
Kajian yang dipaparkan menunjukkan bahwa Chile merupakan pasar yang stabil secara ekonomi dan semakin strategis bagi Indonesia, terutama setelah berlakunya perjanjian dagang Indonesia-Chile Comprehensive Economic Partnership Agreement (IC-CEPA).
Neraca perdagangan Indonesia dengan Chile tercatat konsisten positif, sementara sejumlah komoditas seperti otomotif, alas kaki, produk kimia, dan kertas dipetakan sebagai produk yang memiliki peluang ekspor paling kuat.
Sementara itu, Nigeria dinilai menyimpan potensi besar berkat ukuran pasar yang luas dan kebutuhan impor yang tinggi. Meski neraca perdagangan Indonesia masih negatif, beberapa komoditas unggulan seperti minyak sawit, margarin, dan produk besi baja tetap menunjukkan performa yang stabil dan berpotensi diperkuat melalui strategi penetrasi pasar yang lebih terarah.
Secara keseluruhan, kajian memproyeksikan pertumbuhan perdagangan Chile mencapai 32 persen. Sedangkan impor Nigeria meningkat sekitar 11 persen dalam beberapa tahun mendatang. “Temuan ini membuka ruang yang lebih besar bagi Indonesia untuk memperluas jangkauan ekspor di kedua pasar non-tradisional tersebut,” ucap Anugerah.
Dalam kesempatan yang sama, Kemlu meluncurkan Sistem Informasi Diplomasi Ekonomi (SIDE) sebagai instrumen baru yang memperkuat perumusan kebijakan diplomasi ekonomi berbasis data. Direktur Jenderal/Kepala Badan Strategi Kebijakan Luar Negeri (BSKLN) Kemlu, Muhammad Takdir, menjelaskan SIDE dikembangkan sebagai decision support system untuk memperkuat proses pengambilan keputusan melalui analisis data yang terukur.
Platform ini dirancang untuk mengintegrasikan berbagai sumber data perdagangan dan ekonomi, kemudian mengolahnya menjadi informasi yang mudah diakses melalui visualisasi daya saing produk, dinamika pasar, serta proyeksi risiko.
“Selain itu, dalam kaitan infrastruktur diplomasi ekonomi, relevansi SIDE juga menjadi sangat nyata. SIDE memungkinkan kita melakukan analisis pasar secara lebih sistematis dan terukur, termasuk untuk pasar-pasar non-tradisional yang selama ini belum tergarap optimal,” ujarnya.
Dalam kerja sama tersebut, tim memanfaatkan metodologi Structural Match Index–Demand Index (SMI-DI) untuk mengidentifikasi negara yang paling potensial, serta pendekatan Revealed Comparative Advantage–Constant Market Share Analysis (RCA-CMSA) dan Revealed Symmetric Comparative Advantage–Trade Balance Index (RSCA-TBI) untuk memetakan produk-produk Indonesia yang memiliki daya saing kompetitif 90.
Ia menambahkan, sistem ini tidak hanya mendukung analisis perdagangan barang, tetapi juga memperkuat kajian sektor jasa, termasuk strategi penempatan tenaga kerja profesional Indonesia di pasar global.
Kolaborasi BRIN dan Kemlu dalam penyusunan kajian Chile dan Nigeria disebut sebagai contoh penting bagaimana integrasi riset dan kebijakan dapat menghasilkan rekomendasi yang relevan dengan kebutuhan pembangunan nasional.
Melalui pendekatan evidence based policy, kajian ini memberikan rujukan bagi pemerintah dalam menentukan prioritas negara tujuan ekspor, pemetaan produk unggulan, serta strategi diplomasi ekonomi yang adaptif.
BRIN dan Kemlu mendorong agar SIDE dimanfaatkan secara luas oleh kementerian/lembaga, akademisi, hingga pelaku usaha. Ke depan, sistem ini akan terus dikembangkan dengan fitur data baru dan integrasi lintas sektor untuk menjawab kebutuhan diplomasi ekonomi yang semakin dinamis.
Peluncuran SIDE sekaligus menjadi landasan penguatan kerja sama riset strategis antara BRIN dan Kemlu, khususnya dalam penyediaan analisis pasar dan intelijen ekonomi berbasis data untuk mendukung peningkatan daya saing Indonesia di pasar global. (ahmad)
