IPOL.ID- Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan menyentuh level Rp17.600 per dolar AS pada perdagangan Jumat (15/5/2026). Pelemahan mata uang Garuda ini memicu kekhawatiran luas karena berpotensi mendorong kenaikan harga barang kebutuhan hingga membebani dunia usaha.
Rupiah dibuka melemah ke posisi Rp17.600 per dolar AS atau turun 0,48 persen dibanding penutupan sehari sebelumnya di level Rp17.529 per dolar AS. Hingga penutupan perdagangan, rupiah hanya mampu menguat tipis ke Rp17.597 per dolar AS.
Pengamat pasar uang Ariston Tjendra menilai tekanan terhadap rupiah dipicu menguatnya dolar AS di tengah meningkatnya ketidakpastian global, terutama akibat memanasnya situasi di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia.
“Selama gejolak Timur Tengah belum mereda dan harga minyak masih tinggi, rupiah akan tetap berada dalam tekanan,” ujar Ariston, Jumat (15/5/2026).
Sementara itu, ekonom Center of Reform on Economics Yusuf Rendy Manilet mengingatkan, pelemahan rupiah berkepanjangan bisa menimbulkan efek domino terhadap perekonomian nasional.
