IPOL.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus mematangkan transformasi layanan peringatan dini cuaca melalui pendekatan Impact-Based Forecasting (IBF). Langkah ini dilakukan untuk mendukung penuh implementasi Aksi Merespons Peringatan Dini (AMPD) di Indonesia.
Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan bahwa transformasi ini dipicu oleh lonjakan bencana hidrometeorologi di Indonesia sepanjang periode 2010–2025. Kondisi ini berdampak langsung terhadap masyarakat, infrastruktur, layanan publik, serta aktivitas ekonomi.
“Kita harus bergeser dari sekadar mengabarkan ‘apa cuacanya nanti’ menjadi ‘apa yang akan diakibatkan oleh cuaca tersebut’ beserta rekomendasi tindakannya. Melalui IBF, BMKG merancang layanan informasi yang jauh lebih spesifik hingga tingkat kelurahan/desa,” ujar Andri, mengutip Senin 29 Juni 2026.
Layanan ini mencakup IBF harian, prakiraan dampak hingga 10 hari ke depan yang diperbarui setiap 12 jam. Selain itu, Nowcasting, memberikan prakiraan cuaca jangka pendek (1—6 jam ke depan) dan diperbarui setiap 10 menit dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan yang terintegrasi data Radar Cuaca dan Numerical Weather Prediction (NWP).

