IPOL.ID-Perempuan kepala rumah tangga atau pencari nafkah utama di Indonesia terus meningkat, dengan lebih dari 16% rumah tangga kini bergantung pada perempuan sebagai tulang punggung keluarga.
Data BPS tersebut menjadi sebuah realita yang menuntut akses pembiayaan inklusif untuk membantu perjuangan para perempuan.

Kisah nyata dari realita tersebut adalah Utari, perempuan berusia 58 tahun, warga Panjang Jiwo, Surabaya. Perjalanannya bukan tanpa rintangan. Pada 2019, suaminya mengalami kecelakaan yang menyebabkan cedera serius hingga tidak bisa bekerja lagi, tepat saat pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Dalam kondisi terjepit, ia memanfaatkan satu-satunya keahlian yang dimilikinya yaitu menjahit untuk bertahan hidup.
“Waktu itu saya bingung mau pinjam modal kemana. Kemudian saya mendengar informasi tentang PNM Mekaar. Ada tetangga yang bilang, ‘Coba ke Mekaar saja’. Waktu itu saya sempat bertanya, Mekaar itu apa?” ungkap Utari.
Berawal dari pembiayaan PNM Mekaar sebesar Rp2 juta pada tahun 2019 di mana Rp1 juta dipakai untuk membeli mesin jahit bekas dan sisanya untuk bahan baku, Utari kini mengelola usaha tas souvenir yang pesanannya datang dari berbagai daerah, bahkan mampu menyekolahkan kedua anaknya hingga lulus perguruan tinggi.
Kini, tujuh tahun berselang, pinjaman Utari telah tumbuh menjadi Rp8 juta, dan ia mampu membuka lapangan pekerjaan kepada empat penjahit di sekitarnya.
